Posted on 22 May 2009
Pada tanggal 21 Mei 2009 yang lalu, saya menghadiri acara perpisahan seminaris 7BC di Seminari Menengah Stella Maris – Bogor. Ada yang tak biasa pada tulisan di panggung. Selama 4 tahun saya berada di Seminari, yang saya tahu adalah tulisan penglepasan 7BC dan kemarin yang saya lihat adalah pelepasan 7BC. Menurut pengetahuan saya, istilah pelepasan berarti adalah tempat untuk melepaskan dan bisa bermakna “dubur” tetapi ketika hal itu saya confim ke panitia acaranya, dia mengatakan kalau hal tersebut sudah dia tanyakan ke guru Bahasa Indonesia di sekolah dan sudah ia cari di kamus. Maka pendapat dia, yang benar adalah pelepasan bukan penglepasan.
Karenanya saya lebih baik googling dengan memasukan keyword “pelepasan atau penglepasan”.
Berikut yang saya dapat :
- Tanya: Betulkah bentuk kata pengrajin? Mengapa bukan perajin seperti peramal, perawat?
Jawab: Kata dasar yang berfonem awal /r/ jika diberi awalan pe-, seperti rawat – perawat; ramal—peramal. Bila kata dasar kata sifat diberi awalan pe-, maka awalan pe- mengandung makna ‘orang yaang sifatnya seperti yang disebutkan kata dasarnya itu’. Misalnya pemalas ‘orang yang sifatnya malas’, pemarah ‘orang yang sifatnya suka marah’. Beranologi kepada bentukan itu maka perajin ialah ‘orang yang sifatnya rajin’ [walaupun kata ini jarang dipakai dalam tuturan].
Kata pengrajin tidak berarti ‘orang yang sifatnya rajin’, tetapi ‘orang yang mengerjakan pekerjaan industri rumah seperti membuat sepatu, membuat keranjang, membuat tikar’. Sengaja bentuknya dilainkan dari bentuk yang biasa karena makna yang terkandung pada kata bentukan itu lain daripada bentuk perajin. Bandingkan dengan bentuk penglepasan disamping pelepasan. Dikatakan penglepasan tamu negara yakni ‘hal melepaskan [pergi] tamu negara’ bukan ‘pelepasan tamu Negara’ karena kata pelepasan mengandung arti banyak dan salah satu di antaranya ialah ‘dubur’. Unntuk menghindari makna ‘dubur’ itu bentuk kata itu dilainkan sehingga menjadi penglepasan.
sumber : http://my.opera.com/m_ulan_n/blog/2008/03/29/mengenai-pe. Tulisan ini dibuat oleh JS. Badudu (Intisari ‘89)
- pada yahoo group ada juga yang mengkomplain tulisan pelepasan
“Ketika aku masuk aula FHUI, terpampang spanduk dgn tulisan besar “Pelepasan Siswa Siswi …. dst” dan di bawahnya terpampang tulisan lebih besar “Meraih Cita dengan Usaha dan Do’a”. Alm. Slamet Jabarudi, redaktur bahasa Majalah Tempo dengan merujuk kepada KBBI menulis, pelepasan adalah sama dengan dubur, sehingga acara perpisahan yang juga sering disebut melepas murid, penggunaan kata paling tepat adalah penglepasan. Jadi, “pelepasan siswa siswi adalah dubur siswa siswi “.
sumber : http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/33611
- Sementara itu, dengan peng-an, akan dihasilkan bentuk perakitan, perusakan, pelepasan, dan pelaporan. Ada variasi lain yang sering ditemukan, yakni pengrusakan atau penglepasan. Kedua bentuk ini menyimpang dari kaidah pembentukan kata. Kedua bentuk itu menyimpang dari kaidah pembentukan kata. Namun, adanya bentuk penglepasan merupakan gejala yang tidak beralasan. Ada yang berdalih bahwa bentuk itu membedakan antara pelepasan dan penglepasan.Bahwa penglepasan bermakna ‘proses, cara, dan kegiatan melepaskan’, sementara pelepasan adalah ‘bagian belakang untuk buang air besar; dubur’ tidak harus dibedakan.
sumber : Kompas bahasa Indonesia Oleh Abdul Gaffar Ruskha
Menurut saya sendiri kata pelepasan sudah mengalami penurunan atau bermakna buruk / peyoratif karena dapat bermakna ‘dubur’. Alangkah baiknya bila kata itu diganti dengan penglepasan karena dapat bermakna proses atau kegiatan. Mengacu pada kata pelepasan atau penglepasan, lalu yang benar pelihatan atau penglihatan?
Popularity: 18% [?]
Posted on 06 April 2009
Gw hanya bisa tertawa wakaka melihat perselisahan antara dua grup Facebook yang menamakan Say “NO!!!” to Megawati dan Lawan Pembuat SAY NO TO MEGA.
Dimulailah grup Say “NO!!!” to Megawati muncul di hadapan para pengguna Facebook. Dalam hitungan hari page tersebut sukses mendulang suara 90.558 (terus bertambah setiap detiknya). Seakan tidak mau kalah dibikinkanlah grup Lawan Pembuat SAY NO TO MEGA tapi apa daya grup ini hanya mampu menjaring 112 suara dan tentu tidak akan bertambah setiap detiknya. Lucunya ternyata yang menjadi pendukung Lawan Pembuat SAY NO TO MEGA tak lain dan tak bukan mereka yang telah menjadi pendukung grup Say “NO!!!” to Megawati dengan alasan agar bisa menulis komentar di grup Lawan Pembuat SAY NO TO MEGA.
Komentar – komentar yang ditampilkan sangat beragam mulai dari yang kecewa kenapa komennya yang baru ia tinggalkan sudah digantikan dengan komentar baru karena saking banyaknya komentar yang masuk sampai ada yang jualan kacang dan rokok. 
Kritik itu memang pedas apalagi kripik pedas bisa membuat perut mulas. Tapi jiwa kita akan semakin sakit bila tidak ada orang yang mau mengkritik kita. Cuma mau menyampaikan bagi yang memberikan komentar hendaklah saran dan kritik yang bersifat membangun bukan saling menghujat serta melecehkan. Semoga bangsa ini menjadi lebih baik. Amin.
Popularity: 26% [?]
Posted on 15 March 2009
Setelah menghabiskan waktu selama satu hari + beberapa jam untuk merevisi proposal. Akhirnya selesai juga tuh revisi proposal. Rencananya gw akan ketemu dosen pembimbing dan dya ada di Mercubuana jam 13.30 sampai jam 18.00. Setelah diprint dan gw baca sekilas, ya ampun ternyata gw selama ini salah mentafsirkan kalo program yang gw pakai bukan Delphi melainkan harus menggunakan Mikocok Visual Basic. Gw harus memakai VB karena referensinya juga memakai VB, gila aja gw harus konvert dan cari – cari lagi contoh program aplikasi yang akan gw jadiin tugas akhir kalau gw tetap maksa menulis Delphi.
Sampai di kampus pukul 13.15. Langsung aja gw pergi ke tempat makan karena perut hanya diisi bacang n kopi tadi pagi. Karena buru – buru, gw makan siang ga sampe 10 menit! Gila kan.. Bagi yang ingin mencobanya rahasianya ada pada makanan yang berkuah. Nasi sedikit + kuah yang banyak, dijamin akan membantu untuk mempercepat kunyahan. Selesai makan segeralah gw menjilid proposal revisi tersebut.
Read the full story
Popularity: 7% [?]
Posted on 14 March 2009
Berhubung gw lagi ga ada ide untuk merevisi proposal tugas akhir, lebih baik kalo gw bersabda eh bercerita. Sabtu 14 Maret ceritanya bokap baru balik dari Bangka. Bokap ke Bangka untuk menghadiri setahun Kungkung meninggal. Bagi yang ga tau, Kungkung bahasa lainnya yaitu Opa atau Kakek atau Ayah dari Bapak atau Ibu atau Opung kalo orang Batak bilang. 
Pulang dari Bangka, bokap membawa banyak oleh – oleh. Mulai dari Kemplang yang dimakan dengan kuah, nanas Bangka (bentuknya kecil dan rasanya manis), Kue Bangkit atau gaulnya Kue Lintah, Sekardus imitasi daun ganja alias pucuk muda daun dari umbi singkong, dan salah satunya adalah seonggok daging yang tak gw kenal.
Read the full story
Popularity: 8% [?]
Posted on 13 March 2009
Siapa yang tak kenal dengan binatang ini. Kutu busuk atau bangsat atau kepinding adalah binatang vampire penghisap darah. Bila kita bunuh dengan ditekan keras menggunakan kuku atau bahasa kerennya dipites maka akan menimbulkan bau yang kurang sedap. Di Seminari bangsat bukanlah hal baru. Hampir setiap ranjang di dormit memilikinya lebih dari satu.
Bila anda penghuni baru Seminari dan mempunyai hobi sering memakan makanan yang manis, maka dapat dipastikan tubuh anda tidak akan kebal terhadap gigitan bangsat. Bila sudah tergigit, maka kulit anda akan merasa gatal dan berbentol. Dapat dibedakan antara gigitan nyamuk dengan gigitan bangsat. Maka janganlah heran bila anda melihat seseorang mempunyai bentol – bentol di sekujur tubuhnya di dalam Seminari ketika bangun pagi. Orang itu pasti habis diserang oleh segerombolan bangsat.
Read the full story
Popularity: 34% [?]